Selasa, 05 Januari 2010

38. The Repentant Fugitive

Pagi itu Alvo terlihat turun dari angkutan umum yang mengangkutnya sampai ke sebuah pedesaan sepi di pinggiran kota. Pohon-pohon jati menjulang tinggi banyak terdapat disekitarnya. Ia berjalan pelan menyusuri jalan setapak sambil menggendong ransel kecilnya. Sesekali Alvo memandang ke atas sambil melihat pohon-pohon jati yang menjulang tinggi. Langkah Alvo terlihat pasti untuk membawanya ke tempat tujuannya.

Tidak jauh di depan, Alvo melihat sebuah warung kecil yang terdapat beberapa orang disana. Di warung itu terlihat 4 orang petani yang sudah cukup berumur sedang santai sambil minum kopi sebelum berangkat ke ladangnya untuk bekerja. Alvo berjalan mendekati warung itu.

"permisi, saya mau tanya pak," ucap Alvo pelan
"ada apa dek?" ucap seorang kakek
"apa bapak tau tempat ini?" ucap Alvo sambil menunjukkan tulisan di sebuah kertas
"oooh....tidak jauh dari sini dek, itu di depan sudah kelihatan bangunannya, adek silahkan jalan mengikuti jalan setapak ini, nanti pasti adek sampai,"

"oh bangunan itu ya, ternyata sudah dekat ya, terima kasih pak," ucap Alvo

Para petani itu pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kepada Alvo. Alvo berjalan pergi meninggalkan warung itu untuk menuju tempat tujuannya.

Alvo terus berjalan menyusuri jalan setapak itu, terkadang ia melihat warga desa dan petani berjalan melawatinya sambil tersenyum ramah. Tidak lama Alvo pun sampai di tempat tujuannya. Ia melihat gerbang yang cukup besar ada di hadapannya. Ia melihat beberapa anak kecil berlarian dan menuju kearahnya. Alvo melihat kedua anak kecil itu. Ia hanya terdiam melihat kedua anak kecil yang memakai baju muslim dan peci berwarna putih itu.

Seorang laki-laki terlihat menghampiri Alvo yang tampak kebingungan berdiri sendirian di depan gerbang.

"Assalammuallaikum," ucap laki-laki itu

Alvo hanya terdiam dan tidak tahu harus menjawab apa

"kalau ada orang yang mengucapkan salam, sebaiknya kita membalasnya, ucapkan waallaikummussalam, itu lebih baik," ucap laki-laki muda itu sambil tersenyum

"sori gw gak tahu cara jawabnya," ucap Alvo bingung

Laki-laki muda itu hanya tersenyum kepada Alvo, lalu ia melihat Alvo dari ujung kaki sampai ujung rambut. Ia menggelengkan kepalanya karena melihat Alvo yang seperti anak brandalan dengan baju kaosnya yang kumel dan jeans biru belelnya yang robek-robek.

"apa yang membawamu kemari anak muda?"
"gw ingin ketemu dengan Bapak Ahmad,"

Laki-laki muda itu tersenyum dan mengajak Alvo masuk ke dalam pesantren islam itu.

"mari ikut saya," ucap laki-laki itu

Sambil mengikuti laki-laki yang belum ia kenal namanya, Alvo melihat-lihat sekeliling pesantren milik Bapak Ahmad itu. Ia melihat beberapa anak kecil berpakaian muslim yang sedang duduk di taman sambil mendapatkan pengajaran dari gurunya, ada juga beberapa santri remaja yang sedang berjalan sambil membawa kitab Al Quran di tangannya. Semua orang disitu memakai baju muslim dan sangat sopan dan membuat Alvo malu karena memakai baju yang serba asal-asalan

Alvo pun masuk ke mushola dan melihat seorang laki-laki sedang duduk sendirian sambil membaca kitab. Laki-laki itu terlihat sangat khusyuk.

"itu adalah Bapak Ahmad, kepala Pesantren Al-Amin ini, kalau nama saya Hasan, saya adalah santri disini," ucap Hasan
"oh, nama gw Alvo,"

Hasan lalu mendekati Bapak Ahmad yang sedang duduk sendirian itu, Bapak Ahmad terlihat mengangguk dan menengok ke belakang. Bapak Ahmad adalah seorang yang sangat berwibawa. Para wajahnya sangat kharismatik dan bijaksana, ia juga memiliki janggut yang agak keputihan di dagunya. Sisi-sisi rambutnya yang tidak tertutup sorban berwarna agak putih karena beruban. Bapak Ahmad adalah muslim yang sangat beriman dan merupakan panutan di pesantren itu dan masyarakat sekitar.

"ternyata kamu datang juga nak Alvo," ucap Bapak Ahmad
"iya pak, setelah lama berpikir seharian, hati saya berkata saya harus datang ke tempat ini, entah kenapa saya melakukan ini,"
"coretan-coretan di wajahmu sudah hilang dan tindikan-tindikannya juga sudah kamu copot, itu tindakan yang baik nak Alvo, saya bangga kamu mau bertobat," ucap Bapak Ahmad

"saya ingin bertobat pak, sudah lama saya menganut ilmu hitam dan menyembah setan, saya ingin menjadi seorang muslim, saya ingin melakukan shalat dan saya ingin menjadi orang yang baik,"

Bapak Ahmad tersenyum begitu bahagia melihat orang seperti Alvo. Ia memegang pundak Alvo dan berbicara pelan kepadanya

"kamu sudah ada di jalan yang benar nak, semoga niatmu ini tulus dan kamu bisa bertobat menuju jalan yang benar,"
"apakah seseorang seperti saya ini bisa masuk islam dan menjadi seorang muslim pak?"
"tentu saja nak Alvo," ucap Pak Ahmad sambil tersenyum
"lalu apa yang harus saya lakukan?"
"mari kita belajar agama, kamu akan menjadi laki-laki yang sholeh sebentar lagi, sekarang mari ikut saya, kita harus mengganti bajumu itu dengan baju muslim dan peci agar lebih sopan,"

Alvo pun berjalan keluar dari mushola mengikuti Bapak Ahmad dan Hasan yang berjalan tepat di depannya.



Di tempat persembunyian Ghost

Terlihat Leonard sedang berjalan menuju kamar Alvo yang berada tidak jauh dari kamarnya. Ia membuka pintu kamar itu perlahan, tapi ternyata kamar itu kosong dan Alvo tidak ada di dalam. Leonard pun berjalan menuju ruang tengah dan menghampiri Zen yang sedang santai bersama anak-anak Ghost yang lain

"lo liat Alvo gak? kok di kamarnya ga ada?" ucap Leonard
"wah gw mana tau, pagi-pagi gini tumben dia udah ga ada," ucap Zen
"ah apasi yang lo tahu, payah lo ah," ucap Leonard
"yee...belagu lo!" ucap Zen

Leonard terlihat sedikit kesal dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Ia mengambil botol anggur dan menuangkannya ke sebuah gelas kaca yang berukuran kecil, Ia langsung meneguk air anggur itu dengan cepat.

"eh lo liat nih berita!" ucap Red sambil melempar sebuah koran ke meja
"berita apaan si?" ucap Zen

Zen mengambil koran itu dan membaca sebuah berita yang tertulis di halaman koran. Berita itu membicarakan penangkapan dan pelumpuhan geng Ace dan Dead Hunter yang baru saja terjadi beberapa hari lalu.

"gila...kita harus ngapain nih?" ucap Zen
"gw mau kabur," ucap Red
"kabur? mau kemana lo?" ucap Zen
"kabur dari sini, gw gak mau ketangkep polisi, si Alvo aja udah kabur, lo gak takut apa!"
"tapi lo mau kemana?"
"kemana aja yang penting jauh dari jangkauan polisi!" dah ah gw cabut! semoga beruntung kawan!"

Red pun pergi begitu saja keluar dari tempat persembunyian Ghost itu.

"jadi gimana nih? si Red sama Alvo udah kabur! gw juga mau ikut kabur kalo gini!" ucap Zen
"gw juga mau cabut hari ini! tadi gw ke kamar Alvo mau ajak dia kabur, tapi dia gak ada!" ucap Leonard
"lo mau kemana? gw ikut dong! gw gak tahu mau kabur kemana!" ucap Zen
"itu urusan lo! gw gak mau tar lo nyusahin gw, pokoknya gw cabut sendirian," ucap Leonard

Leonard pun berjalan pergi ke luar dari ruangan. Ia menuju mobilnya yang parkir di depan rumah persembunyian Ghost

Zen terlihat kesal, satu per satu temannya pergi begitu saja meninggalkan dirinya. Ia merenung sendirian dan teringat masih ada satu lagi temannya Gavin yang bisa diajak kabur bersama. Zen berlari ke kamar Gavin, ia membuka pintu kamar itu. Ternyata Gavin tidak ada di kamarnya, kamar itu kosong. Suara mesin motor terdengar cukup nyaring dari luar rumah persembunyian Ghost. Zen langsung berlari ke luar rumah ketika sadar itu adalah motor milik Gavin.

Zen terlihat keluar rumah dan melihat Gavin pergi dengan motornya untuk kabur dari tempat itu. Zen berteriak memanggil Gavin tetapi Gavin hanya mengacungkan jari tengahnya saja sambil mengendarai motor itu

"bangsat! anak setan! gw ditinggal lagi!" ucap Zen

Zen pun masuk ke dalam rumah dengan gerak tubuh yang agak lemas. Ia duduk di sofa ruang tengah sambil berpikir kemana ia harus pergi ketika kabur nanti. Ia merenung sendirian di rumah yang sepi itu dan tidak terasa ia pun tertidur di sofa.



Di jalanan terlihat mobil polisi Kapten Aryo bersama 3 mobil polisi lainnya berjalan dengan cepat menuju tempat persembunyian Ghost. Daerah tempat persembunyian Ghost itu sangat gersang dan banyak tanah-tanah kosong di sekitar. Hanya ada beberapa bangunan yang sudah tidak terpakai lagi berdiri tegak di atas tanah yang kering dan berdebu itu.

Mobil-mobil polisi itu berhenti tepat di depan rumah persembunyian Ghost, mereka keluar dari mobil sambil berjalan membentuk formasi mengepung. Kapten Aryo terlihat berbicara dengan nada pelan sambil menggerakkan tangannya untuk mengkomunikasikan pengepungan.

Di dalam rumah, Zen terbangun ketika handphonenya berbunyi nyaring, ia melihat layar handphonye dan ternyata Alvo menghubunginya

"ada apaan? dimana lo vo?" ucap Zen dengan nada suara masih terkantuk-kantuk
"gw di pesantren Zen, mendingan lo cepet kesini! kita bisa belajar agama Islam! kita bisa belajar jadi orang baik Zen!"

Zen tertawa tanda meledek Alvo

"pesantren? gak salah vo? sejak kapan lo jadi kaya gini? kenapa lo?"
"selama ini lo gak sadar kalo kita itu udah salah jalan! gw gak mau ikutan ritual-ritual kaya gitu terus! gw mau tobat!!! tobat!!!!"
"ah sakit lo vo, apa enaknya sih punya agama kaya gitu, mending kaya gini lah bisa bebas, dah cepet deh lo kesini! temenin gw di sini, anak-anak sama kakak lo udah cabut tadi!"

"cabut? kemana?"
"tau tuh, mau kabur dari polisi!"
"lo gak kabur juga?"
"gak ada yang ajak gw, pada kabur sendiri-sendiri, gak asik banget,"

Kapten Aryo terlihat membidik Zen dari kaca jendela rumah. Kapten Aryo menggunakan senapan bidik yang cukup besar. Polisi yang lain pun masuk melalui pintu depan dan belakang dan mengepung Zen yang berada di ruang tengah

"jangan bergerak! atau saya tembak!" ucap salah satu polisi

Zen kaget ketika melihat para polisi yang masuk dengan cepat ke dalam rumah dan mengepungnya. Ia mengambil pistolnya dan membidik salah satu polisi.

"jatuhkan senjata itu! cepat!"

Zen hanya terdiam dan langsung menembakkan senjatanya ke salah satu polisi. Polisi itu tertembak di dadanya dan terpental jatuh. Para polisi yang lain pun langsung menembak Zen bertubi-tubi. Namun, Zen tidak bergeming dan ia hanya tersenyum. Tidak ada darah di tubuhnya. Para polisi itu tidak terlihat kaget, mereka telah mengetahui kekuatan Alvo ini dan mereka pun telah mengetahui kelemahannya.

Kapten Aryo membidik kalung yang dipakai Zen di lehernya, lalu ia menembak kalung itu dengan senapannya. Bunyi tembakan keras terdengar di rumah itu, Kapten Aryo telah menghancurkan kalung jimat milik Zen yang merupakan sumber kekuatan hitamnya. Zen kaget bukan main, ia memegangi lehernya dan meringis kesakitan. Zen pun berlari untuk keluar dari rumah itu sambil memegangi lehernya yang terluka. Semua polisi itu menembaknya tanpan ampun sampai membuat Zen berteriak dan mengaduh kesakitan.

Zen berjalan tertatih-tatih, ia sudah sekarat. Ia tidak percaya bahwa para polisi tahu kelemahannya. Zen terluka sangat parah, sebentar lagi ia pun akan mati, namun ia berjalan pelan mendekati sebuah laci yang berada di pojok ruangan. Ia mengambil sesuatu yang ada di dalam laci itu. Para polisi dan Kapten Aryo memperhatikan Zen yang mengambil sesuatu itu.

Zen mengambil sebuah pistol di dalam laci itu. Zen mengarahkan tangannya ke depan dan siap menembak para polisi di depannya. Tangan kanan Zen terlihat gemetar sambil memegang pistol dan tangan kirinya memegang dadanya yang tertembak. Zen terlihat semakin lemas dan terjatuh ke lantai dan tidak sempat menembak para polisi itu. Darah mengalir dari tubuh Zen memenuhi lantai berwarna putih itu. Zen telah tewas pagi itu

Para polisi berjalan mendekati mayat Zen. Para polisi itu mengamankan mayat Zen dan menelusuri tempat persembunyian Ghost itu.

"satu telah lumpuh, bagaimana dengan yang lain?" ucap Kapten Aryo
"tim lain sedang melakukan pencarian Kapten!" ucap perwira Edo
"bagus! ayo kita bergerak!" ucap Kapten Aryo

Kapten Aryo pun berlari keluar dari markas Ghost diikuti oleh perwira Edo. Sementara polisi yang lain sibuk mengamankan markas Ghost itu



Matahari siang itu terasa begitu terik, panas begitu terasa diseluruh Kota Jakarta siang hari itu. Ditengah-tengah siang yang panas itu, sering terdengar suara sirine mobil yang sibuk mencari keberadaan anggota geng yang bernama Ghost ini. Ribut suara radio polisi yang terus saling mengabarkan situasi begitu jelas terdengar dari mobil-mobil polisi itu.



Siang itu, di suatu tempat terdengar suara langkah kaki seorang laki-laki yang berjalan seakan ragu-ragu. Laki-laki itu berjalan dengan penuh perasaan bimbang. Laki-laki itu berjalan pelan menuju rumah sederhana yang terletak di pinggiran kota. Rumah itu berpagar kayu yang setinggi pinggang laki-laki dewasa.

Red membuka pagar kayu itu perlahan. Ia berjalan masuk untuk mengetuk pintu kayu rumah itu. Dengan penuh keraguan ia mencoba untuk mengetuk pintu itu, namun sesaat ia mengurungkan niatnya dan berbalik badan untuk pergi menuju mobilnya. Setelah berjalan beberapa langkah menjauhi pintu rumah, Red menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan berjalan dengan penuh keyakinan menuju pintu rumah itu.

Ia mengetuk pintu itu perlahan dan menunggu seseorang membukakan pintu. Ia terus menunggu di depan rumah itu sambil mengetuk pintu. Tiba-tiba terdengar suara anak perempuan yang bertanya siapa yang datang. Lalu, anak perempuan lucu yang berumur sekitar 6 tahun itu membukakan pintu dan melihat Red dengan ekspresi wajah yang sangat bingung

"om...om...ciapa?" ucap anak perempuan itu penuh keluguan
"ibumu ada nak?" ucap Red
"ibu? ada om...sebental ya," ucap anak itu

Red hanya terdiam sambil tersenyum senang melihat anaknya sudah tumbuh dewasa setelah ia lama pergi meninggalkan isterinya.

Tidak lama, seorang perempuan berambut panjang keluar dan melihat Red dengan perasaan penuh kesal yang mendalam. Wajah perempuan itu terpancar rasa kebencian atas suatu peristiwa di masa lalu. Perempuan itu menyuruh anaknya untuk masuk ke dalam rumah.

"apa kabar na?" ucap Red
"ngapain kamu datang kesini? bukannya kamu lebih milih jadi penjahat bersama orang-orang gila itu dulu! pergi kamu!! pergi!!" ucap Anna begitu keras

"tunggu dulu na! aku udah keluar dari geng itu! aku sekarang mau membina keluarga kita dari awal! aku mau kehidupan yang lebih baik na! maafin aku! aku mohon!"
"maaf?! setelah kamu menghamili aku terus kamu pergi gitu aja ninggalin aku dan Kinan! kamu mau minta maaf!? dasar laki-laki gak tahu diri!!!"

"maafin aku na....beri aku kesempatan! aku mohon!" ucap Red

Red memegangi tubuh isterinya Anna sambil meyakinkannya bahwa ia ingin berubah dan membina keluarga yang baik. Red yang begitu dingin itu ingin menjadi orang yang lebih baik dan mencintai keluarganya. Red sadar bahwa selama ini ia telah melakukan kesalahan karena mencampakkan Anna dan anaknya Kinan.

"aku gak bisa, sudah 6 tahun aku hidup berdua saja dengan Kinan, tiba-tiba kamu datang dan minta maaf, gak semudah itu Red," ucap Anna sambil meneteskan air mata karena ingat memori masa lalu

Red hanya terdiam dan ia tidak tahu harus berbuat apa. Harapannya untuk membina keluarga dari awal untuk menyayangi isteri dan anaknya telah sirna. Red terlihat begitu kecewa. Ia melepas cincin di tangannya dan memberikannya kepada isterinya

"apa ini?" ucap Anna
"itu jimatku, kamu pegang ya, aku mau pergi jauh dari sini, itu kenang-kenangan dari aku untuk kamu, mungkin kita gak akan ketemu lagi na,"
"kamu mau kemana Red?"
"aku gak tahu, yang jelas jauh dari sini, aku akan pergi kemana pun dan datang lagi kesini nanti suatu saat kalau kamu dan Kinan sudah mau menerimaku,"

Anna hanya terdiam

"oh iya, ini aku punya hadiah untuk Kinan," ucap Red

Red memberikan sebuah boneka perempuan yang berukuran kecil kepada Anna. Kinan memanggil mamanya dan berjalan mendekati Anna sambil mengambil boneka pemberian ayahnya

"selamat ulang tahun ya Kinan," ucap Red
"telimakasih om......mah.....om ini siapa?" ucap Kinan lugu
"bukan siapa-siapa nak," ucap Anna

Red tersenyum dan mengusap kepala Kinan, lalu ia pun berjalan pelan menuju mobilnya. Setelah berjalan beberapa langkah, ia menengok kebelakang sambil melambaikan tangan. Anna hanya tersenyum kecil dengan wajahnya yang terlihat sedih.

Red berjalan menuju mobilnya, namun ia tersentak kaget ketika bunyi tembakan terdengar keras. Polisi telah mengepung sekitar rumah itu.

"jangan bergerak! anda sudah kami kepung! cepat menyerahlah dan angkat tangan anda!"

Red mengangkat tangannya dan menyerah. Para polisi memborgol tangan Red dan akan membawanya ke kantor polisi. Anna terus berusaha menahan para polisi itu agar tidak membawa suaminya. Ia menangis histeris sambil berteriak untuk mencegah suaminya dibawa polisi. Walaupun Anna membenci Red, tapi masih ada sedikit rasa cinta terhadap suaminya itu

Usaha Anna sia-sia saja, Red telah diborgol dan dipaksa masuk ke dalam mobil polisi. Anna menjerit sangat keras, ia berlari menuju mobil polisi yang akan membawa pergi suaminya dan ayah dari anaknya.

Melihat Anna menangis, Red langsung berontak dan menendang polisi yang memegangnya dan langsung berlari ke arah Anna. Seorang polisi menembak kaki Red dan membuat Red terjatuh tersungkur. Anna langsung memeluk Red sebelum ia terjatuh ke tanah. Anna melihat wajah Red yang mengaduh kesakitan karena tertembak.

Anna berkata maaf berulang-ulang dan dia bersedia menerima Red kembali menjadi suaminya, Red tersenyum senang dan memeluk Anna dengan erat tetapi seorang polisi langsung menarik Red dari pelukannya dan memaksa Red agar masuk ke mobil polisi.

Anna tidak diam saja, ia menarik tangan Red dan tidak mau melepasnya. Polisi itu sudah berteriak kencang agar Anna melepas tangan Red. Namun, Anna tidak menggubrisnya, ia malah mendorong polisi itu agar melepaskan Red. Polisi itu pun naik pitam, ia mendorong Anna sampai jatuh terjerembab

Red kaget dan memanggil nama Anna, ia memukul polisi yang mendorong Anna dan mengambil pistol di celana polisi itu. Red langsung menembak polisi itu sampai polisi itu terjatuh dan sekarat. Red yang bebas langsung menghampiri Anna dan membantunya berdiri. Ia mengusap rambut Anna dan langsung mengecupnya.

Anna tersenyum sambil melihat wajah Red, lalu tidak lama terdengar suara tembakan keras sebanyak 2 kali siang itu. Wajah Red berubah drastis dan terlihat kesakitan. Mulut Red mengeluarkan darah cukup banyak. Anna mengusap darah yang ada di punggung Red dan melihat darah merah kental itu di tangannya

Anna memanggil Red pelan, ia tahu suaminya telah tertembak. Red hanya tersenyum sambil berpesan agar Anna menjaga anaknya dengan baik. Ia berpesan agar anaknya harus bersekolah dengan baik dan jangan menjadi anak yang tidak berguna seperti bapaknya. Red juga minta maaf kepada Anna karena kesalahannya. Kali ini Red tidak kebal karena jimat yang biasa ia pakai telah ia berikan tadi kepada Anna. Red pun mendekati ajalnya siang itu

Tidak lama setelah ia mengucapkan maaf, Red pun meninggal dipelukkan Anna. Anna menangis pelan sambil memeluk suaminya dengan erat. Sedangkan Kinan memeluk kedua orang tuanya sambil menangis sambil mengucapkan kata ayah dan ibu.




Sementara itu jauh di suatu tempat yang sepi, Leonard sedang terlihat panik dan bersembunyi dari kejaran polisi. Ia mengintip dari balik tembok gang sempit untuk melihat keadaan sekitar. Ia sangat ketakutan siang itu, keringat bercucuran membasahi kaos hitamnya. Nafas Leonard terdengar begitu menggebu karena kelelahan. Leonard menyembunyikan dirinya di balik tembok gang setelah melihat beberapa orang polisi menuju ke arahnya

"kemana larinya tuh orang?" ucap seorang polisi
"kayanya disini kosong," ucap polisi lain
"iya, ayo balik ke mobil,"

Ketiga polisi itu kembali ke mobil mereka dan menjauhi Leonard yang sedang bersembunyi di balik tembok gang sempit itu

"hampir aja, kalo gak gw bisa ditangkep.......kenapa dia bisa tahu jimat gw......mereka udah nembak jimat gw sampe hancur tadi, gw udah ga kebal lagi, kalo gini gw bisa mati, apa yang harus gw lakukan sekarang," ucap Leonard dalam hati

Tiba-tiba Leonard kaget karena handphone di saku celananya bergetar, ia mengangkat telepon itu.

"halo, lo dimana vo?" ucap Leonard
"gw di pesantren, lo kenapa gw ajak tobat ga mau? ini jalan yang benar nard, lebih baik lo ikutin jalan gw,"

Leonard tertawa kecil seperti meledek

"apa? tobat? apa gunanya agama kaya gitu, gw ga percaya tuhan vo,"
"terus lo mau kemana?"
"gw ga tau, gw mau kabur ke luar kota, gw butuh duit, cepet lo temuin gw, kasih gw duit terus gw mau cabut dari kota sial ini," ucap Leonard
"duit? ok kalo gitu,"

Leonard menutup teleponnya setelah mendengar tempat pertemuan yang dijanjikan Alvo adiknya. Ia bergegas menuju tempat itu sambil berhati-hati dan melihat situasi disekitarnya



Setelah beberapa lama, Leonard terlihat turun dari angkutan umum dan sudah sampai di tempat dimana ia akan bertemu adiknya Alvo. Leonard berjalan dengan pelan dan geraknya terlihat sangat waspada. Ia menundukkan wajahnya dan bersikap seperti orang biasa. Setelah berjalan cukup lama menyusuri jalanan sempit di pinggiran kota, ia sampai di suatu tempat yang sepi yang biasa digunakan para pemulung untuk menginap. Leonard menyalakan rokoknya sambil menunggu Alvo, ia terlihat tidak tenang.

Tidak lama, Alvo pun datang dan melihat Leonard sedang berdiri sambil bersandar di tembok jalan. Leonard begitu kaget melihat penampilan Alvo yang berubah drastis, ia mematikan rokoknya dan membuangnya ke jalan.

"ga salah lo vo? kenapa lo jadi kaya gini?" ucap Leonard terkejut
"kenapa? gw biasa-biasa aja," ucap Alvo

Leonard melihat Alvo dari ujung kaki sampai ujung rambut, Alvo memakai baju muslim putih yang bersih dengan peci hitam yang menutup rambutnya. Pancaran aura Alvo begitu cerah dan memancar keluar sampai membuat Leonard terheran-heran dengan perubahan drastis adiknya itu.

"gila, lo bener-bener gila vo, apa-apaan lo!" ucap Leonard
"gw mau tobat, gw udah sadar sekarang, lo semestinya ikutin jalan gw nard, lo gak bakal nyesel karena ini jalan yang benar,"

Leonard tertawa meledek Alvo

"culun! lo tuh culun!! gw kasian ngeliat lo vo," ucap Leonard

Alvo hanya terdiam melihat kakaknya meledeknya

"dah cepet mana duitnya, gw mau kabur," ucap Leonard

Alvo memberikan tas kecil berwarna hitam kepada Leonard, lalu Leonard melihat isi tas itu yang penuh dengan uang lembar lima puluh ribuan. Leonard tersenyum, lalu ia mengucap salam perpisahan kepada adiknya

"gw cabut dulu, awas lo sampai ngelaporin gw! gw abisin lo!"
"iya tenang aja, gw mau shalat di mesjid, udah adzan tuh," ucap Alvo
"lo gila ye? agama sampah!!" ucap Leonard sambil meludah

Leonard pun pergi menjauhi Alvo yang terdiam sambil menggelengkan kepala. Alvo berjalan menuju mesjid untuk menjalankan shalat Zuhur siang itu. Para jamaah yang lain pun telihat banyak berjalan menuju mesjid.


Sementara itu, terlihat Leonard berjalan dengan cepat melewati jalanan kecil yang sepi siang itu. Ia terlihat begitu terburu-buru untuk segera pergi meninggalkan tempat itu. Leonard pun semakin hilang di kejauhan dan tak terlihat lagi. Sementara teman-teman Ghost yang lainnya telah hilang entah pergi kemana. Ada kemungkinan mereka berhasil kabur dari kejaran polisi atau bisa saja mereka telah tertangkap bahkan tewas ditangan para polisi.


Malam itu di rumah kakek Bimo

Hari itu cepat berlalu dan malam pun tiba. Karin terlihat pucat dan begitu lemas, ia terbaring tak berdaya di sofa ruang tamu. Bimo terlihat sedang memberikan segelas air kepada Karin. Karin pun meminum air itu disertai dengan obat penurun panas. Belum sempat menelan obat itu, Karin tiba-tiba pingsan dan menjatuhkan obat dan gelas ke lantai hingga pecah. Bimo pun kaget ketika melihat Karin pingsan dan segera menggendong adiknya itu. Ia berjalan cepat menuju mobilnya dan membawa Karin ke rumah sakit.


Jauh dari tempat Bimo berada, Leonard sedang merokok di bedeng kecil di daerah Jawa Tengah Semarang. Ia pergi menggunakan bus tadi sore dan telah sampi di kota ini untuk lari dari kejaran polisi. Ia telah kehilangan para teman-temannya dan adiknya yang memilih untuk bertobat dan masuk pesantren. Leonard telah menghabiskan banyak rokok dan ampas rokok terlihat banyak berserakan di lantai dan kasur. Leonard mengira telah lolos dari kejaran polisi karena telah kabur ke daerah yang terpencil. Di malam yang sepi itu terdengar langkah cepat yang berasal dari sekeliling bedeng yang ditempati Leonard.

Ternyata Leonard telah dibuntuti dari terminal bus tadi sore oleh para intel dan ia tidak pernah tahu akan hal itu. Sekarang para polisi intel ini pun telah mengepung bedeng yang ditempati Leonard dan ia masih belum mengetahui hal ini. Pintu kayu bedeng kecil itu pun tiba-tiba terbuka dengan keras karena ditendang oleh seorang polisi yang langsung mengarahkan pistol ke Leonard yang terkejut di atas kasur.

Para polisi itu bergerak masuk dengan cepat dan berteriak kencang memecah keheningan malam itu. Leonard hanya bisa pasrah, ia mengangkat tangannya dan membiarkan dirinya diborgol polisi. Ia tahu jimat saktinya telah hancur ditembak polisi tadi siang dan ia tidak kebal lagi seperti biasanya, daripada mati ia memilih untuk dibawa polisi ke penjara. Malam itu Leonard tertangkap sementara adiknya yang bertobat masih tentram berada di pesantren. Seandainya Leonard mengikuti apa yang dikatakan adiknya dan bertobat, mungkin saja ia tidak akan bernasib seperti ini.




































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar